Penelitian dapat dilakukan dalam segala disiplin ilmu, jadi tem­pat penelitian/laboratorium bukan hanya milik ilmu kedok­teran yang meneliti dan meng­amati kegiatan bak­teri, dan bukan juga hanya milik ilmu kimia yang meneliti dan meng­amati reaksi zat-zat yang dicam­pur di tabung reaksi.

Tetapi juga milik ilmu-ilmu lain, sehingga dikenal sekarang adanya laboratorium bahasa, laboratorium pemerin­tahan, laboratorium politik dsb.

Istilah yang menyebutkan ‘Lain teori lain pula prak­tek­nya’ tidak tepat lagi karena teori dan pen­dapat ilmiah dari seorang ahli itu mun­cul setelah ybs melakukan penelitian, dengan demikian selalu didukung oleh kenyataan empiris. Mes­kipun kadang-kadang teori itu spekulatif namun demikian teori itu dekat dengan kenyataan.

Tujuan teori yaitu secara umum mem­per­soalkan pengetahuan dan men­jelaskan hubungan antara gejala-gejala sosial dengan observasi yang dilakukan.

Teori juga ber­tujuan untuk meramalkan fungsi dari pada gejala-gejala sosial yang diamati itu ber­dasarkan pengetahuan-pengetahuan yang secara umum telah diper­soalkan oleh teori.

Dalam ber­ba­gai model penelitian untuk menemukan kebenaran ilmiah, ada yang memakai hipotesa, yaitu untuk penelitian yang uji hipotesa atau disebut juga penelitian analisis verifikatif, namun ada pula yang non hipotesis, seperti penelitian desk­rip­tif, yang ter­diri dari desk­rip­tif developmen­tal dan desk­rip­tif eks­ploratif dan lain-lain.

Teori
Kon­sep <————————————-> Kon­sep
|                                                                                  |
|                                                                                  | 

Operasio­nalisasi                                                Operasionalisasi

|                                                                                    |
V V 

Variabel <————————————-> Variabel

Hipotesis

(Sum­ber: Dr. Talizidulu Ndraha, Disain Riset dan Tek­nik Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, 1987, yang menerangkan kedudukan Hipotesis ter­hadap Teori)

Hipotesa harus dibuk­tikan, tidak dapat men­jadi praduga dan per­sang­kaan belaka. Bila tidak dibuk­tikan dan diuji, sipeneliti sudah barang tentu tidak meng­etahui sejauh mana kebenaran ilmiahnya.

Hal ini ber­sesuaian dengan apa yang di Fir­mankan Allah dalam Al-Qur’an sbb:

Dan mereka tidak mem­punyai sesuatu pengetahuan­pun ten­tang itu. Mereka tidak lain hanyalah meng­ikuti per­sang­kaan sedang sesung­guh­nya per­sang­kaan itu tiada ber­faedah sedikitpun ter­hadap kebenaran.” (QS. 53:28)

…dan mereka sekali-kali tidak mem­punyai pengetahuan ten­tang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. 45:24)

Kata “per­sang­kaan” dan “Duga-duga” dalam ayat diatas ber­arti hipotesa yang harus diuji dan dibuk­tikan kebenaran ilmiahnya.

Pada gam­bar yang telah saya can­tumkan, menun­jukkan hubungan antara variabel dengan hipotesa. Dari dua atau lebih variabel dapat dibuat hipotesa untuk penelitian analisis verifikatip.

Penelitian analisis verifikatip ditan­dai dengan penem­patan kata “Pengaruh” atau “Per­anan” didepan variabel bebas, selan­jut­nya memer­lukan per­hitungan statis­tik untuk menen­tukan ramalan (prediction) per­ubahan variabel ter­gan­tung, atas tin­dakan yang sudah dilakukan variabel bebas.

Sehingga antara variabel dengan variabel ter­gan­tung diletakkan kata “Ter­hadap” dan “Dalam” seba­gai peng­hubung, misalnya :

  1. Pengaruh Promosi ASI ter­hadap ber­kurang­nya pen­derita diare pada anak.
  2. Per­anan Adminis­trasi Pemerin­tahan Desa dalam Pem­bangunan Desa.

Lebih ren­dah gradiasinya dari pemakaian kata “Pengaruh” dan “Per­anan” dipakai kata “Hubungan” dengan meletakkan kata “Dengan” seba­gai peng­hubung, misalnya :

  1. Hubungan disiplin Islam secara men­dasar dengan ber­kurang­nya tin­dak kejahatan.
  2. Hubungan pengar­sipan dengan pengam­bilan keputusan.

Variabel dibagi men­jadi sub-sub variabel, untuk masing-masing dapat diuji seba­gai hipotesa minor.

Penelitian2 seperti apa yang diuraikan diatas, baik analisis verifikatip maupun desk­rip­tif (developmen­tal atau eks­ploratif) dan lain-lain, sangat diper­lukan oleh setiap cen­dikiawan dan intelek­tual Mus­lim, seba­gai realisasi Firman Allah sbb :

Katakanlah: “Per­hatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang mem­beri per­ingatan bagi orang-orang yang tidak ber­iman”.” (QS. 10:101)

Kata “Per­hatikanlah” dapat ditafsirkan seba­gai “Lakukanlah Penelitian” karena merupakan per­in­tah untuk para ilmuwan untuk lebih men­dalami dan melakukan penelitian dibidang disiplin ilmunya masing-masing.

Dengan demikian ayat ter­sebut dapat lebih jauh ditafsirkan sbb :

Lakukanlah penelitian dilaboratorium2 ber­ba­gai disiplin ilmu pengetahuan, ter­hadap apa yang ada dan ter­jadi dari alam raya sam­pai pada dasar bumi.

Jika tidak, maka tidak akan ber­man­faat bagi manusia tanda-tanda kebesaran Allah Rabbul ‘Alamin, dan Rasul-rasulNya yang mem­beri per­ingatan, yaitu bagi orang –orang yang tidak mem­per­gunakan akal pikiran­nya dan memiliki keyakinan akan kebesaran agama Islam.

Nabi Muham­mad Saw sen­diri juga memerin­tahkan agar umat Islam melakukan penelitian dan beliau juga menyebut-nyebut ten­tang ilmu pengetahuan seba­gaimana diriwayatkan hadits-hadist ber­ikut ini :

Men­cari ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap Mus­limin dan Muslimat”

Tun­tut­lah ilmu pengetahuan sejak dari buaian sam­pai keliang lahad.”

Bah­wasanya ilmu itu menam­bah mulia bagi orang yang sudah mulia dan mening­gikan seorang budak sam­pai keting­kat raja-raja.”

Apabila wafat seorang anak Adam, putus­lah amal per­buatan­nya, kecuali tiga per­kara, yaitu Ilmu yang mem­bawa man­faat, sedekah Jariyah dan doa anak yang saleh.”

Tidak wajar bagi orang yang bodoh ber­diri atas kebodohan­nya, dan tidak wajar bagi orang yang ber­ilmu ber­diam diri atas ilmunya.”

Yang binasa dari umatku ialah, orang ber­ilmu yang zalim dan orang ber­ibadah yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat ialah kejahatan orang yang ber­ilmu dan kebaikan yang paling baik ialah kebaikan orang yang berilmu.”

Jadilah kamu orang yang meng­ajar dan belajar atau pen­dengar atau pen­cinta ilmu, dan janganlah eng­kau jadi orang yang kelima (tidak meng­ajar, tidak belajar, tidak suka men­dengar pelajaran dan tidak men­cin­tai ilmu), nanti kamu akan binasa”

Barang siapa meng­hen­daki dunia, maka dia harus men­capainya dengan ilmu. Barang siapa meng­hen­daki akhirat, maka dia harus men­capainya dengan ilmu. Dan barang siapa meng­hen­daki keduanya, maka dia harus men­capainya dengan ilmu.”

Ma’rifat adalah modalku, akal pikiran adalah sum­ber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah ken­daraanku, ber­dzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah per­ben­daharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah sen­jataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr adalah kebang­gaanku, menahan diri adalah peker­jaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah per­an­taraku, ketaatan adalah ukuranku, ber­jihad adalah per­angaiku, hiburanku adalah dalam bersembahyang.”

  • Share/Bookmark
Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.


Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to My Yahoo! Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net [Valid RSS] Add to Technorati Favorites
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.

Tafakur Untuk Dunia Akhirat is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!