Posts Tagged “Abah Didi”

Tafakur Meditasi Islam Abah Didi mem­punyai metoda atau cara untuk meng­ingat Allah yang akan dirasakan dan ter­tanam seumur hidup dalam hati-sanubari, yaitu meng­ingat Allah dengan kon­sen­trasi akal-pikiran pada kalimah “Subhanallah” yang ber­ada dalam per­nafasan. Yang merupakan intisari kehidupan.

Meng­ingat Allah bagi umat Islam yang ber­iman dan ber­takwa, bukan kehen­dak manusia itu sen­diri atau manusia lain tetapi per­in­tah dari Allah Subhanahu Wa Taala seba­gai Pen­cipta dan Pemilik seluruh umat manusia dan alam semesta.

Seperti yang Allah fir­mankan di dalam Al Qur’an : 

Surah Qaaf, ayat 16:
Dan sesung­guh­nya Kami telah men­cip­takan manusia dan meng­etahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher­nya.”

Surah Al Ankabuut, ayat 45:
Dan sesung­guh­nya meng­ingat Allah adalah lebih besar keutamaan­nya dari ibadah-ibadah lain. Dan Allah meng­etahui apa yang kamu ker­jakan.”

Surah An Nisaa, ayat 103:
Ingat­lah Allah di waktu ber­diri, di waktu duduk dan di waktu ber­baring.”

Surah Ar Ra’d, ayat 28:
Orang-orang yang ber­iman dan hati mereka men­jadi ten­teram dengan meng­ingat Allah. Ingat­lah, hanya dengan meng­ingati Allah — lah hati men­jadi ten­teram.

http://www.abah-didi.com/documents/mengingat-Allah.html

  • Share/Bookmark
Tags: , , ,

Comments No Comments »

banne1

Tafakur Meditasi Islam Abah Didi yang diajarkan oleh Syaikhuna Al Mukar­ram Syech Abdullah Ibnu Mas’ud atau lebih dikenal dengan “Abah Didi”, dengan cara menarik dan meng­eluarkan nafas diser­tai bacaan “Subhanallah” dilakukan minimal lima menit sehari-semalam secara rutin, akan ber­man­faat dalam meng­ingat Allah SWT mulai dari sel yang ter­kecil, organ tubuh, ang­gota tubuh dan seluruh tubuh, lahir bathin, selamat di dunia dan akhirat yang kekal abadi.

Posisi Duduk SIN

CARA MELAKUKAN

Jika sudah siap dalam posisi “Sin” pos­tur tubuh dibuat tegak agar nafas tidak ter­tahan dapat masuk dan keluar dengan nyaman dan benar. Usahakan kepala dalam keadaan tegak agar aliran nafas dapat ber­lang­sung lan­car. Ber­nafas secara alamiah, seringan mung­kin dan ber­kon­sen­trasi melafadzkan kalimat tas­bih “Subhanallah” di dalam hati ketika meng­hirup dan meng­eluarkan nafas. Bahu diusahakan tidak ter­lalu naik atau tegang, san­tai dan rileks sehingga bahu tidak ikut dalam kegiatan menarik dan meng­eluarkan nafas.

cara_melakukan

  • Setelah didapat irama nafas keluar masuk terus menerus yang benar-benar enak lakukanlah kon­sen­trasi supaya pengucapan “Subhanallah” di dalam hati dilakukan sejalan dengan tarikan nafas dan pem­buangan nafas. Dalam satu tarikan nafas di dalam­nya diucapkan “Subhanallah” kemudian ketika keluar nafas ucapkan juga “Subhanallah” dalam satu hembusan.
  • Hal yang perlu diper­hatikan, akhir penarikan nafas ber­samaan dengan selesainya “Subhanallah”. Begitu juga ketika meng­hem­buskan nafas, merasakan saat akhir pengeluaran nafas “Subhanallah” juga sudah selesai diucapkan. Lakukan hal ini beberapa kali hingga didapat satu kesatuan ber­nafas yang halus meng­an­dung ucapan “Subhanallah”. Ulangi beberapa kali dengan perlahan-lahan tanpa ada keinginan men­capai sesuatu hal dan tidak terburu-buru. Read the rest of this entry »
  • Share/Bookmark
Tags: , ,

Comments No Comments »

Betul! Bukan hanya men­cari, tetapi meran­cang per­lin­dungan. Itulah yang sekarang tam­pak­nya pan­tas dilakukan setiap orang di Indonesia. Di manapun seseorang ber­ada sangat mung­kin ter­kena ragam ben­tuk ben­cana dan wak­tunya kapan saja bisa ter­jadi. Kemung­kinan­nya mening­kat setelah rang­kaian gempa besar yang baru-baru ini ter­jadi. Jika hitungan dimulai dari gempa Jawa Barat, Bali, Sumatera Barat, Jambi, Manokwari, Goron­talo yang mun­cul dalam hitungan waktu lima hari saja sangat ber­alasan jika menurut analisis prakiraan kuan­titatif dan kecen­derungan per­ilaku geologi kemung­kinan besar akan hadir lagi gempa-gempa yang lain. Meng­ingat pada kurun waktu lebih lama saja, tahun 1990 hingga 2000, dari gempa-gempa besar di Cina, Los Angeles-Amerika Serikat, Kobe-Jepang, dan di bagian dunia lain­nya, Indonesia men­dapat jatah paling banyak yakni delapan (ham­pir 20%) dari 43 gempa di atas 6 SR yang mematikan. Kemudian, di tahun 2004 ter­jadi Tsunami Aceh dengan kekuatan 9.1 SR merupakan yang ter­besar dan sangat meng­han­curkan [http://earthquake.usgs.gov]. Jadi, sewaktu-waktu boleh saja ada gempa besar lagi. Makin banyak orang men­jadi takut dan ber­upaya men­cari perlindungan.

Tin­dakan cepat dan tepat untuk meran­cang per­lin­dungan adalah memohon lin­dungan dari Allah SWT, dengan ber­sikap hanya takut kepada Allah[1] dengan mening­galkan larangan serta men­taati per­in­tah­Nya. Setelah itu dapat dilakukan upaya peng­gunaan tek­nologi mutakhir untuk mem­buat sarana dan prasarana yang sang­gup meng­hin­dari ben­cana alam dengan cara secepat­nya mem­bangun bangunan-bangunan tahan gempa. Namun, walau selain mahal dan sulit, bangsa Jepang pun yang sangat tekun dan ahli meng­atasi gempa masih sulit ber­tahan dan meng­atasi dam­pak ben­cana alam. Tin­dakan lain ber­ikut­nya adalah meng­hin­dar dari menetap atau mem­bangun tempat-tempat ting­gal dan usaha yang sudah jelas ber­ada di daerah sering gempa. Namun masih belum cukup untuk memas­tikan keber­hasilan ran­cangan per­lin­dungan tersebut.

Ber­un­tung bagi mereka yang punya pem­bim­bing spiritual, guru zuhud, atau guru mur­sid karena dengan petun­juk mereka akan diperoleh kejelasan tin­dakan tepat yang harus dilakukan agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan melakukan ibadah dasar utama shalat, zakat, selalu meng­ingat Allah dengan ber­tafakur meditasi Islam dan kegiatan sehari-hari yang dian­jurkan, seperti banyak telah dicon­tohkan ratusan tahun sebelum­nya, suatu kelom­pok masyarakat atau kaum akan selamat. Belum hilang dari ingatan dari para prak­tisi Tafakur Meditasi Islam Abah Didi [www.abah-didi.com; www.ismedad.co.uk], dalam kurun tahun 2004 –2008, bagaimana mereka diselamatkan dari banjr besar Jakarta, kebakaran pasar di Wanaraja-Garut dan Kan­dangan Kalimantan Selatan, letusan gunung Kelud (yang batal ter­jadi) di Jawa Timur.

Disarankan bagi kita semua untuk sungguh-sungguh meran­cang per­lin­dungan dengan memohon kepada Allah SWT, dengan ber­sikap hanya takut kepada Allah dengan mening­galkan larangan serta men­taati per­in­tah­Nya dengan melakukan ibadah dasar utama shalat, zakat, selalu meng­ingat Allah. Bagi prak­tisi Tafakur Meditasi Islam Abah Didi diharapkan agar seluas-luasnya mem­beritahu, meng­ajak, meng­ingatkan agar keluarga, kerabat, teman, dan saudara-saudara lain­nya di ling­kungan kita agar selalu ingat kepada Allah setidak­nya lima menit setiap hari dengan ber­tafakur meditasi Islam, ingat Akhirat dan jangan ting­galkan ibadah utama shalat dan zakat. Mudah-mudahan kita diberi keselamatan oleh Allah SWT. (TbS, 6÷10÷09)


[1] Sering kita belum mampu meng­iden­tifikasi rasa takut. Takut akan celaka atau tidak mau celaka kemudian memohon supaya kita jangan ter­kena hal yang kita takuti, padahal kita belum memenuhi pra syarat ber­ibadah. Besar kemung­kinan rasa takut ter­sebut masih ber­lan­daskan keinginan duniawi karena takut rumah han­cur, khawatir peker­jaan atau per­dagangan jadi sulit, hilang mata pen­caharian, dan seba­gainya. Mind set­ting seperti inilah yang sebaik­nya segera dirubah men­jadi baik buruk­nya kejadian dari Allah kepada kita harus diterima dengan sukacita. Memang sangat sulit, tetapi bisa dilatih dan dipelajari.

  • Share/Bookmark
Tags: , ,

Comments No Comments »

Di infor­masikan kepada ang­gota Pusat Pelatihan Tafakur Meditasi Islam Abah Didi khusus­nya, dan seluruh lapisan masyarakat umum­nya yang mau ikut ber­par­tisipasi bahwa san­tunan khusus untuk 10 hari Ramadhan 1340 H. awal (tang­gal 1 s/d 10 Ramadhan 1430 H.) sudah dibuka, untuk penyaluran sumbangan/santunan suka rela anda yang ber­ada di wilayah Ban­dung, Jabar. bisa datang lang­sung ke gedung Pusat “Yayasan Tafakur Meditasi Islam Abah Didi” (YTMIAD), lan­tai dasar. Jl. Dakota 25 A-B, Ban­dung. Telpon: 022–607 8517. Dan untuk yang ber­ada diluar wilayah Ban­dung, Jabar anda bisa lihat di daf­tar Pusat Pelatihan. Atau juga bisa di tran­sfer lan­sung melalui Bank BCA KCU Dago, Ban­dung No. Rekening : 7770495592 Atas Nama : Tubagus Sufyan. Ir. H.

Untuk san­tunan 10 hari ke-2 (tang­gal 11 s/d 20 Ramadhan 1430 H.) sumbangan/santunan sudah di terima di Pusat “Yayasan Tafakur Meditasi Islam Abah Didi” sebelum tang­gal 10 Ramadhan 1430 H. dan san­tunan untuk 10 hari ke-3 (tang­gal 21 s/d 30 Ramadhan 1430 H.) sumbangan/santunan sudah di terima di Pusat “Yayasan Tafakur Meditasi Islam Abah Didi” sebelum tang­gal 21 Ramadhan 1430 H.

Keterangan :
Seluruh sum­bangan yang anda salurkan melalui YTMIAD 100% di salurkan lang­sung kepada fakir mis­kin, yatim piatu dan para jompo sesuai dengan waktu yang sudah diten­tukan di atas.

Kegiatan ini sudah ber­lang­sung semasa KH. R. Ibnu Mas’ud atau Abah Didi sedari awal beliau men­dirikan pon­dok pesan­tren “Mif­tahul Huda”
tahun 1973 di Rindu Alam, Jalan Selabin­tana Km.3
Sukabumi-Jawa Barat hingga sekarang; dan dikem­bangkan secara lebih meluas pengelolaan­nya dian­taranya melalui Yayasan Tafakur Meditasi Islam Abah Didi ini. 

Atas sum­bangan maupun per­hatian­nya kami ucapkan terima kasih, semoga amal baik kita dibalas lang­sung oleh Allah. swt dengan ber­lipat ganda. Amin

  • Share/Bookmark
Tags: , ,

Comments No Comments »

Kezuhudan Abah Didi adalah zuhud­nya seseorang yang meng­enal akan kekal­nya akhirat, karena beliau sangat meng­enal bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang fana yang pasti akan han­cur sirna, dan begitu juga sedikit bekal­nya serta pen­dek umur­nya. Maka dari itu Abah Didi memilih akan kekekalan akhirat serta apa-apa yang dijan­jikan Allah swt. kepada para kekasih-Nya ber­upa kenik­matan yang kekal dan nyata, pahala yang besar dan keabadiannya.

Dari sebagian orang umum (bukan santri/murid beliau) yang meng­etahui maupun meng­enal­nya lang­sung sepin­tas kilas, memang Abah Didi ter­lihat didalam kehidupan keseharian­nya beliau Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark
Tags: ,

Comments No Comments »

Pas­tilah bagi seorang mus­lim selalu ter­ingat dan terngiang-ngiang dalam pikiran maupun lubuk hati ten­tang sosok makh­luq yang paling dimuliakan oleh Allah. swt; sang nabiyullah Muham­mad. saw. Semoga shalawat dan salam selalu ter­curah baginya, seluruh keturun­nya, para sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman. amin.

Dalam buku “Ka Annaka Tar?” oleh Dr. ‘Aidh Abdullah al-Qarni ia men­ceritakan ten­tang sosok yang paling der­mawan yang dikenal diseluruh pelosok sean­teru dunia ini, ia memainkan jari-jemarinya untuk menulis, ber­cerita yang jiwa raganya seakan-akan ia melihat lang­sung dan begaul dalam keseharian­nya dengan Rasullulah. saw.

Rasulullah adalah orang yang paling der­mawan, keder­mawanan­nya meliputi seluruh jiwa raganya, telapak tangan­nya dipenuhi dengan kebaikan, keder­mawanan­nya ibarat sum­ber mata air yang jer­nih yang selalu meng­alir yang tak kenal surut walaupun dalam musim kemarau yang ber­kepan­jangan, dalam mem­beri ia bagaikan orang tak per­nah takut akan kefakiran, ia ber­in­faq walaupun ia tak punya dan mem­beri walaupun ia dalam kefakiran.

zakatAbah Didi, didalam kehidupan­nya sehari-hari tidak per­nah lepas dari hal yang demikian itu, bagi saya Abah Didi benar-benar sang peniru dan pengikut ketauladanan yang Rasulullah. saw. con­tohkan didalam kehidupan keseharian­nya, selama masa hidup­nya Abah Didi dalam memim­pin pon­dok pesan­tren Mif­tahul Huda, Abah Didi tidak per­nah meng­enakan biaya sepeser­pun buat siapa saja yang mau menun­tut ilmu agama Islam ber­samanya, malahan Abah Didi yang Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark
Tags: ,

Comments No Comments »

Sesunguh­nya kebenaran itu mem­bawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan meng­han­tarkan kepada surga, dan seseorang senan­tiasa ber­laku benar dan ber­usaha dalam kebenaran sehingga ia titulis di sisi Allah ter­masuk orang benar.

(HR. Bukhari  / Mus­lim  dari Abdullah bin Mas’ud r.a)

Abah DidiSetelah menamatkan sekolah di SPMA Bogor, Abah Didi bekerja di kebun tem­bakau yang masih milik keluar­ganya, dan beliau di tugaskan untuk meng­epalai dan meng­awasi gudang tem­bakau, selama gudang tem­bakau ter­sebut ber­isi, apalagi penuh dengan tem­bakau; selama itu juga Abah Didi tidak mening­galkan tugas yang di amanahkan kepadanya walaupun itu milik keluarga dekat­nya; dan rata-rata dalam kesehari-hariannya makan, tidur beliau memilih tetap didalam gudang tem­bakau tersebut.

Setiap waktu Abah Didi men­jelaskan baik secara lisan maupun dip­rak­tekan lang­sung oleh beliau sen­diri kepada anak-anak murid­nya untuk selalu meneg­gakan kejujuran dan kebenaran, walaupun hanya sekedar dalam senda gurau; kelakar maupun canda, karena beliau juga seba­gai seorang teman, kakak, paman, ayah sekaligus guru mur­syid dari anak-anak murid­nya dalam per­gaulan sehari-hari diling­kungan pon­dok­nya yang selalu dan selalu menegakan kejuran dalam hidup­nya, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.

Beliau senan­tiasa jujur kepada yang dekat maupun yang jauh, kepada kawan maupun orang lain, kepada laki-laki maupun per­em­puan, kepada yang muda maupun yang tua, disaat ber­diam maupun saat beper­gian, dalam tidur maupun bangun­nya; dan dalam fatwa maupun ceritan­nya. Subhanallah… Maha Suci Allah yang telah men­jadikan beliau ter­masuk orang-orang yang jujur dan benar; dan hingga dalam marah­nya pun kebenaran, can­danya pun kebenaran, dan hingga tangis­nya pun adalah kebenaran. (AH)

  • Share/Bookmark
Tags: ,

Comments No Comments »

“ABAH DIDI”

abah-photoDi abad modern ini dalam kalangan ulama-ulama ter­suhur di negeri ter­cinta kita ini sosok “Abah Didi” memang sebagian kalangan masyarakat dan mung­kin masih banyak yang belum meng­enal­nya, karena sudah salah satu adab beliau memang tidak suka untuk dipublikasikan apalagi memp­romosikan diri; yang walaupun pada masa hidup­nya selama 36 tahun semen­jak ia men­dirikan per­guruan atau pon­dok pesan­tren “Mif­tahul Huda” pada tahun 1973 yang dimulainya di jalan Salabin­tana Km.3 Sukabumi dan pada tahun 1984 pin­dah ke Desa Cijang­kar, Kecamatan Nyalin­dung. Sukabumi 12,5 km dari Sukabumi ke arah Sagaran­ten dan yang ter­akhir di pada tahun 1989 Pusat Per­guruan Mif­tahul Huda Abdullah Ibnu Mas’ud (Abah Didi) pin­dah ke Buni Ayu dan Lebak Nangka, Desa Kerta-Angsana, Kec. Nyalin­dung, Kab. Sukabumi, Km.25 dari Sukabumi masih kearah Sagaranten.

Kip­rah Abah Didi dalam meng­ajar, men­didik, mem­bim­bing dan meng­asuh anak-anak san­trinya atau murid-muridnya 99% bil-hal atau prak­tek lang­sung yang diterapkan pada kehidupan sehari-hari, karena mana semasa Abah Didi memulai ber­guru pada tahun 1965 di pon­dok pesan­tren “Jam­pes” kini “Al Ihsan” Jampes-Kediri yang pada masa itu di pim­pin oleh Kyai Mukhsin, hingga tahun 1967 Abah Didi menemukan guru yang diperin­tahkan oleh Kyai Baji untuk dicari yaitu “Syekh Abdul Qodir As Safei Al Ashari” yang ber­mukim di Cisaat, Sukabumi  Abah Didi juga diajarkan oleh guru-gurunya hal yang demikian itu. 

Tafakur Meditasi Islam Abah Didi yang diajarkan oleh Syaikhuna Al Mukar­ram Syech Abdullah Ibnu Mas’ud atau lebih dikenal dengan “Abah Didi”, dengan cara menarik dan meng­eluarkan nafas diser­tai bacaan “Subhanallah” dilakukan minimal lima menit sehari-semalam secara rutin, akan ber­man­faat dalam meng­ingat Allah SWT mulai dari sel yang ter­kecil, organ tubuh, ang­gota tubuh dan seluruh tubuh, lahir bathin, selamat di dunia dan akhirat yang kekal abadi.

  • Share/Bookmark
Tags: ,

Comments No Comments »

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to My Yahoo! Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net [Valid RSS] Add to Technorati Favorites
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.

Tafakur Untuk Dunia Akhirat is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!