Posts Tagged “Abah Guru”

Tafakur Meditasi Islam Abah Didi mem­punyai metoda atau cara untuk meng­ingat Allah yang akan dirasakan dan ter­tanam seumur hidup dalam hati-sanubari, yaitu meng­ingat Allah dengan kon­sen­trasi akal-pikiran pada kalimah “Subhanallah” yang ber­ada dalam per­nafasan. Yang merupakan intisari kehidupan.

Meng­ingat Allah bagi umat Islam yang ber­iman dan ber­takwa, bukan kehen­dak manusia itu sen­diri atau manusia lain tetapi per­in­tah dari Allah Subhanahu Wa Taala seba­gai Pen­cipta dan Pemilik seluruh umat manusia dan alam semesta.

Seperti yang Allah fir­mankan di dalam Al Qur’an : 

Surah Qaaf, ayat 16:
Dan sesung­guh­nya Kami telah men­cip­takan manusia dan meng­etahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher­nya.”

Surah Al Ankabuut, ayat 45:
Dan sesung­guh­nya meng­ingat Allah adalah lebih besar keutamaan­nya dari ibadah-ibadah lain. Dan Allah meng­etahui apa yang kamu ker­jakan.”

Surah An Nisaa, ayat 103:
Ingat­lah Allah di waktu ber­diri, di waktu duduk dan di waktu ber­baring.”

Surah Ar Ra’d, ayat 28:
Orang-orang yang ber­iman dan hati mereka men­jadi ten­teram dengan meng­ingat Allah. Ingat­lah, hanya dengan meng­ingati Allah — lah hati men­jadi ten­teram.

http://www.abah-didi.com/documents/mengingat-Allah.html

  • Share/Bookmark
Tags: , , ,

Comments No Comments »

Betul! Bukan hanya men­cari, tetapi meran­cang per­lin­dungan. Itulah yang sekarang tam­pak­nya pan­tas dilakukan setiap orang di Indonesia. Di manapun seseorang ber­ada sangat mung­kin ter­kena ragam ben­tuk ben­cana dan wak­tunya kapan saja bisa ter­jadi. Kemung­kinan­nya mening­kat setelah rang­kaian gempa besar yang baru-baru ini ter­jadi. Jika hitungan dimulai dari gempa Jawa Barat, Bali, Sumatera Barat, Jambi, Manokwari, Goron­talo yang mun­cul dalam hitungan waktu lima hari saja sangat ber­alasan jika menurut analisis prakiraan kuan­titatif dan kecen­derungan per­ilaku geologi kemung­kinan besar akan hadir lagi gempa-gempa yang lain. Meng­ingat pada kurun waktu lebih lama saja, tahun 1990 hingga 2000, dari gempa-gempa besar di Cina, Los Angeles-Amerika Serikat, Kobe-Jepang, dan di bagian dunia lain­nya, Indonesia men­dapat jatah paling banyak yakni delapan (ham­pir 20%) dari 43 gempa di atas 6 SR yang mematikan. Kemudian, di tahun 2004 ter­jadi Tsunami Aceh dengan kekuatan 9.1 SR merupakan yang ter­besar dan sangat meng­han­curkan [http://earthquake.usgs.gov]. Jadi, sewaktu-waktu boleh saja ada gempa besar lagi. Makin banyak orang men­jadi takut dan ber­upaya men­cari perlindungan.

Tin­dakan cepat dan tepat untuk meran­cang per­lin­dungan adalah memohon lin­dungan dari Allah SWT, dengan ber­sikap hanya takut kepada Allah[1] dengan mening­galkan larangan serta men­taati per­in­tah­Nya. Setelah itu dapat dilakukan upaya peng­gunaan tek­nologi mutakhir untuk mem­buat sarana dan prasarana yang sang­gup meng­hin­dari ben­cana alam dengan cara secepat­nya mem­bangun bangunan-bangunan tahan gempa. Namun, walau selain mahal dan sulit, bangsa Jepang pun yang sangat tekun dan ahli meng­atasi gempa masih sulit ber­tahan dan meng­atasi dam­pak ben­cana alam. Tin­dakan lain ber­ikut­nya adalah meng­hin­dar dari menetap atau mem­bangun tempat-tempat ting­gal dan usaha yang sudah jelas ber­ada di daerah sering gempa. Namun masih belum cukup untuk memas­tikan keber­hasilan ran­cangan per­lin­dungan tersebut.

Ber­un­tung bagi mereka yang punya pem­bim­bing spiritual, guru zuhud, atau guru mur­sid karena dengan petun­juk mereka akan diperoleh kejelasan tin­dakan tepat yang harus dilakukan agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan melakukan ibadah dasar utama shalat, zakat, selalu meng­ingat Allah dengan ber­tafakur meditasi Islam dan kegiatan sehari-hari yang dian­jurkan, seperti banyak telah dicon­tohkan ratusan tahun sebelum­nya, suatu kelom­pok masyarakat atau kaum akan selamat. Belum hilang dari ingatan dari para prak­tisi Tafakur Meditasi Islam Abah Didi [www.abah-didi.com; www.ismedad.co.uk], dalam kurun tahun 2004 –2008, bagaimana mereka diselamatkan dari banjr besar Jakarta, kebakaran pasar di Wanaraja-Garut dan Kan­dangan Kalimantan Selatan, letusan gunung Kelud (yang batal ter­jadi) di Jawa Timur.

Disarankan bagi kita semua untuk sungguh-sungguh meran­cang per­lin­dungan dengan memohon kepada Allah SWT, dengan ber­sikap hanya takut kepada Allah dengan mening­galkan larangan serta men­taati per­in­tah­Nya dengan melakukan ibadah dasar utama shalat, zakat, selalu meng­ingat Allah. Bagi prak­tisi Tafakur Meditasi Islam Abah Didi diharapkan agar seluas-luasnya mem­beritahu, meng­ajak, meng­ingatkan agar keluarga, kerabat, teman, dan saudara-saudara lain­nya di ling­kungan kita agar selalu ingat kepada Allah setidak­nya lima menit setiap hari dengan ber­tafakur meditasi Islam, ingat Akhirat dan jangan ting­galkan ibadah utama shalat dan zakat. Mudah-mudahan kita diberi keselamatan oleh Allah SWT. (TbS, 6÷10÷09)


[1] Sering kita belum mampu meng­iden­tifikasi rasa takut. Takut akan celaka atau tidak mau celaka kemudian memohon supaya kita jangan ter­kena hal yang kita takuti, padahal kita belum memenuhi pra syarat ber­ibadah. Besar kemung­kinan rasa takut ter­sebut masih ber­lan­daskan keinginan duniawi karena takut rumah han­cur, khawatir peker­jaan atau per­dagangan jadi sulit, hilang mata pen­caharian, dan seba­gainya. Mind set­ting seperti inilah yang sebaik­nya segera dirubah men­jadi baik buruk­nya kejadian dari Allah kepada kita harus diterima dengan sukacita. Memang sangat sulit, tetapi bisa dilatih dan dipelajari.

  • Share/Bookmark
Tags: , ,

Comments No Comments »

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Add to My Yahoo! Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net [Valid RSS] Add to Technorati Favorites
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.

Tafakur Untuk Dunia Akhirat is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!